Laba GGRM Meroket 2.440% Capai Rp2,97 T di Semester I/2026

Jumat, 31 Juli 2026 | 04:06:01 WIB
PT Gudang Garam Tbk. (GGRM). (Foto: NET)

JAKARTA - Sepanjang semester I/2026, PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) sukses mencatatkan lonjakan laba bersih hingga ribuan persen, walau pendapatan perseroan (top line) tercatat menurun secara tahunan. 

Peningkatan performa laba ini didorong oleh langkah efisiensi yang diterapkan, sebagaimana tercermin dalam laporan keuangan paruh pertama tahun 2026.

Merujuk pada laporan keuangan unaudited periode Januari hingga Juni 2026, GGRM mencetak pendapatan sebesar Rp41,18 triliun, menyusut 7,19% year on year (YoY) dibanding periode serupa di 2025. 

Kendati demikian, perseroan berhasil memangkas biaya pokok pendapatan hingga 13,28% YoY, dari Rp40,58 triliun menjadi Rp35,19 triliun. Dampaknya, laba kotor GGRM melonjak 58,02% YoY menjadi Rp5,98 triliun dari sebelumnya Rp3,79 triliun.

Langkah efisiensi turut tampak pada beban bunga yang menyusut drastis sebesar 97,94% YoY, turun dari Rp219,35 miliar ke level Rp4,52 miliar. 

Pada pos bottom line, laba bersih atau laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk GGRM mencapai Rp2,97 triliun. Capaian tersebut meroket 2.440,2% YoY dari posisi laba bersih semester I/2025 yang hanya senilai Rp117,16 miliar.

Secara konsolidasi, bisnis utama penjualan rokok masih menjadi tulang punggung kinerja GGRM. Segmen ini menyumbang 98% dari keseluruhan pendapatan dengan nilai Rp40,27 triliun, meski secara nominal turun 7,78% YoY. 

Akan tetapi, sumbangsih segmen rokok terhadap laba konsolidasi justru melesat 362,31% YoY, dari Rp889,12 miliar menjadi Rp4,11 triliun.

Sebaliknya, lini bisnis di luar rokok—seperti infrastruktur, kertas karton, serta segmen lainnya—malah mencatatkan kinerja negatif atau mengalami kerugian terhadap laba konsolidasi perseroan.

Jika dirinci berdasar kategori produk, penjualan sigaret kretek mesin (SKM) masih mendominasi pendapatan rokok GGRM. SKM memberikan porsi hingga 89% terhadap total pendapatan perseroan dengan nilai Rp36,61 triliun, kendati angka ini juga tergerus 7,88% YoY.

Dari segi geografis, pasar dalam negeri masih menjadi penyumbang utama sebesar 98% dari total pendapatan konsolidasi, yakni mencapai Rp40,52 triliun. 

Sebagai perbandingan, pasar ekspor menyumbang Rp661,28 miliar. Meskipun porsinya hanya 2%, pendapatan dari pasar internasional ini berhasil tumbuh 18,68% YoY.

Dalam penerapan strategi efisiensinya, pos terbesar pada biaya pokok pendapatan tetap berasal dari cukai rokok. Komponen yang meliputi cukai, pita, PPN, serta pajak rokok menyumbang 80% atau senilai Rp28,29 triliun terhadap total beban biaya pokok pendapatan. Nominal ini sukses ditekan hingga 13,97% secara YoY.

Tak hanya membuat beban lebih ramping, GGRM terbukti berhasil mendongkrak profitabilitas. Peningkatan ini tercermin dari naiknya gross profit margin (GPM) selama semester I/2026. 

Melalui perhitungan total pendapatan dan laba bruto, GPM GGRM tahun ini melesat ke level 15%, jauh lebih baik ketimbang 9% pada periode yang sama di tahun 2025.

Menilik neraca keuangannya, total aset GGRM selama periode Januari-Juni 2026 tumbuh 3,37% year to date (YtD) menjadi Rp77,79 triliun, dengan rincian aset lancar senilai Rp42,89 triliun serta aset tidak lancar Rp34,89 triliun. 

Sementara itu, total liabilitas naik 8,66% YtD ke level Rp13,78 triliun, yang mencakup liabilitas jangka pendek sebesar Rp11,77 triliun serta liabilitas jangka panjang senilai Rp2,01 triliun. Di sisi lain, total ekuitas perseroan menguat 2,30% YtD ke angka Rp64,01 triliun.

Melalui rasio utang terhadap ekuitas atau debt-to-equity ratio (DER), angka yang tercatat untuk semester I/2026 adalah 0,22 kali. 

Ini mengindikasikan bahwa GGRM memiliki struktur permodalan yang sangat konservatif, di mana untuk tiap Rp1 ekuitas, liabilitas yang ditanggung hanya sekitar Rp0,22. Dengan kata lain, ketergantungan terhadap pendanaan berbasis utang relatif rendah dan risiko leverage perseroan cenderung kecil.

Terakhir, return on equity (ROE) perseroan di paruh pertama 2026 tercatat sebesar 4,65%. 

Angka ini menunjukkan bahwa kapasitas GGRM dalam mencetak laba dari modal yang diberikan pemegang saham masih tergolong terbatas, yang berarti setiap investasi modal sebesar Rp100 hanya mendatangkan keuntungan sekitar Rp4,65.

Terkini

Concacaf Tolak Proposal Baru FIFA Terkait FFE

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:23:01 WIB

Caroline Dubois Gabung Tim Manny Robles Untuk Babak Baru

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:18:01 WIB

PSS Sleman Siap Hadapi Jadwal Padat Musim 2026/2027

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:16:31 WIB