Efek Kompres Es di Ketiak untuk Cemas Menurut Psikiater

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:13:32 WIB
Ilustrasi - Mengompres ketiak dengan es batu. (Foto: NET)

JAKARTA - Tren mengompres ketiak menggunakan es batu sebagai metode untuk meredakan kecemasan serta pikiran berlebih kini tengah hangat diperbincangkan di berbagai platform media sosial. 

Namun demikian, para ahli dari IPB University menyatakan bahwa sensasi dingin tersebut sekadar membantu menenangkan fisik dalam kurun waktu singkat dan belum layak dikategorikan sebagai penanganan utama untuk mengatasi gangguan kecemasan.

Berdasarkan publikasi resmi IPB University pada Jumat (31/7/2026), dokter spesialis kedokteran jiwa sekaligus pengajar pada Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, menerangkan bahwa sensasi dingin memang mampu menghadirkan pengaruh relaksasi bagi fisik. 

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa sampai saat ini belum tersedia dokumentasi ilmiah memadai yang mengesahkan kompres es pada area ketiak sebagai bentuk terapi penyembuhan gangguan kecemasan ataupun pikiran berlebih.

Menurut Riati, suhu dingin mampu menekan reaksi tubuh terhadap tekanan mental lewat perangsangan sistem saraf parasimpatis yang berfungsi dalam mekanisme relaksasi. 

Sensasi tersebut turut berperan mengalihkan fokus seseorang dari alur pikiran yang berlebihan melalui penerapan teknik grounding. 

Melalui cara itu, individu berpotensi merasakan ketenangan seusai menerima stimulasi dingin secara fisik. Meskipun demikian, dampak yang ditimbulkan bersifat sementara dan sama sekali tidak menyentuh akar permasalahan dari kecemasan yang tengah melanda.

“Efeknya hanya bersifat sementara, yaitu membantu menenangkan tubuh, bukan mengatasi penyebab kecemasan. Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang cukup bahwa kompres es di ketiak merupakan terapi untuk mengatasi gangguan kecemasan atau overthinking,” jelas dr. Riati.

Oleh sebab itu, pemanfaatan kompres es hendaknya tidak diposisikan sebagai satu-satunya instrumen penanggulangan tatkala menghadapi kecemasan yang hadir secara berulang.

Di samping keterbatasan tingkat efektivitasnya, penerapan es secara langsung dalam rentang waktu yang lama patut diwaspadai. 

Riati mengingatkan bahwa interaksi fisik secara langsung bersama es dalam durasi panjang berisiko memicu timbulnya iritasi hingga cedera pada lapisan kulit atau yang biasa disebut cold burn

Kompres bersuhu dingin, menurut pandangannya, sekadar dapat difungsikan sebagai langkah penanganan awal guna membantu seseorang memulihkan ketenangan diri. 

Di sisi lain, kecemasan yang berlangsung terus-menerus serta mulai mengganggu kualitas tidur, ranah pekerjaan, maupun rutinitas harian tentu memerlukan proses evaluasi mendalam serta intervensi profesional dari tenaga kesehatan.

Guna membantu mengendalikan rasa cemas, tersedia sejumlah pendekatan yang telah mengantongi validasi ilmiah.

“Efektivitas terapi dingin dalam mengatasi kecemasan masih terbatas. Sebaliknya, berbagai teknik yang telah didukung bukti ilmiah, seperti latihan pernapasan, mindfulness, relaksasi, dan grounding, terbukti mampu membantu menurunkan gejala kecemasan,” ucapnya.

Lebih lanjut, Riati menunjuk cognitive behavioral therapy (CBT) sebagai salah satu model psikoterapi yang menunjukkan tingkat efektivitas tertinggi dalam menangani persoalan gangguan kecemasan. 

Model penanganan ini dapat diintegrasikan sebagai bagian dari rangkaian pemulihan bagi pihak-pihak yang mengalami kecemasan secara kronis atau menetap. 

Guna memelihara kesehatan mental sehari-hari, Riati turut menganjurkan pembudayaan gaya hidup sehat. Beberapa di antaranya mencakup kegiatan berolahraga secara teratur, pemenuhan kebutuhan istirahat malam, pengurangan asupan kafein, serta pembatasan paparan informasi yang berpotensi memantik kecemasan. 

Berbagai kebiasaan positif tersebut dapat dikombinasikan bersama latihan pernapasan, mindfulness, ataupun teknik relaksasi guna meringankan beban stres.

Apabila rasa cemas bertahan hingga beberapa pekan, mengganggu kelancaran rutinitas harian, ataupun disertai gejala serangan panik, Riati menganjurkan masyarakat agar segera berkonsultasi kepada psikolog maupun psikiater.

“Apabila kecemasan menetap selama beberapa minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai serangan panik, segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Penanganan yang tepat sejak dini akan memberikan hasil yang lebih baik, baik melalui CBT maupun dengan pemberian obat-obatan apabila diperlukan,” tutupnya.

Terkini

Concacaf Tolak Proposal Baru FIFA Terkait FFE

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:23:01 WIB

Caroline Dubois Gabung Tim Manny Robles Untuk Babak Baru

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:18:01 WIB

PSS Sleman Siap Hadapi Jadwal Padat Musim 2026/2027

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:16:31 WIB