Transformasi BACH Perkuat Prospek Bisnis Digital

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 21:50:31 WIB
Pergerakan saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) terus menunjukkan tren positif sejak resmi melantai di bursa. (Foto: NET)

JAKARTA - Pergerakan saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) terus menunjukkan tren positif sejak resmi melantai di bursa. Kalangan analis menilai emiten ini memiliki prospek ekspansi jangka panjang yang terbuka lebar seiring dengan eskalasi kebutuhan infrastruktur digital nasional.

Pada penutupan perdagangan Jumat (31/7/2026), saham BACH menguat 15,05% ke level Rp 880. Sementara itu, sejak penawaran umum perdana (IPO), sahamnya telah mencatatkan kenaikan sebesar 99,1%, meski tidak secepat lonjakan saham-saham pendatang baru lainnya di bursa.

Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Alif Ihsanario, menilai dinamika pergerakan saham BACH pasca-IPO merupakan hal yang wajar dalam mekanisme pasar. Menurutnya, fokus utama perseroan adalah membangun fondasi bisnis secara jangka panjang dan berkelanjutan, alih-alih sekadar mengejar sentimen sesaat. 

“Yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan mampu menciptakan nilai secara berkelanjutan,” kata Alif, Jumat (31/7/2026).

Dari sisi fundamental, kinerja BACH tercatat solid di mana pendapatan pada tahun 2025 melesat hampir 40% menjadi Rp1,73 triliun, sementara perolehan laba bersih melonjak hampir dua kali lipat hingga kisaran Rp155 miliar. 

Pencapaian ini mencerminkan pertumbuhan organik yang ditopang langsung oleh operasional bisnis yang kuat.

Alif turut menyoroti masih adanya persepsi keliru di sebagian kalangan yang memandang BACH sekadar sebagai penyedia genset semata. Padahal, perseroan kini telah bertransformasi menjadi penyedia solusi infrastruktur terintegrasi. 

Selain aktivitas penjualan dan penyewaan genset, BACH menawarkan layanan konstruksi, instalasi, pemeliharaan, serta managed service infrastruktur telekomunikasi, mulai dari pembangunan BTS, pekerjaan civil mechanical electrical (CME), fiber optic deployment, pemeliharaan preventif maupun korektif, hingga penyediaan mobile backup power.

Ia menyampaikan bahwa diversifikasi lini usaha tersebut memperkokoh struktur pendapatan perseroan berkat topangan proyek-proyek baru serta perolehan pendapatan berulang (recurring income). 

Prospek ke depan diproyeksikan semakin tertopang oleh masifnya investasi di sektor telekomunikasi, perluasan jangkauan jaringan 5G, proses fiberisasi, serta pertumbuhan industri pusat data (data center) di tanah air.

Lonjakan konsumsi data diprediksi bakal memicu eskalasi permintaan terhadap infrastruktur pendukung, mencakup backup power, layanan pemeliharaan, hingga operasional, yang merupakan bagian krusial dari rantai nilai infrastruktur digital milik BACH. 

Di sisi lain, masuknya BACH ke dalam ekosistem Grup Djarum melalui kepemilikan Global Telekomunikasi Prima sebagai pengendali baru diyakini mampu mendongkrak posisi kompetitif perseroan. 

Sinergi strategis bersama entitas digital dalam ekosistem tersebut—seperti Protelindo, TOWR, SUPR, dan iForte—berpotensi membuka keran proyek-proyek anyar sekaligus mempertebal porsi recurring revenue lewat kontrak layanan jangka panjang.

Di luar sektor telekomunikasi, BACH juga membidik peluang ekspansi pada berbagai industri yang menuntut keandalan pasokan listrik tinggi, seperti pusat data, sektor manufaktur, kawasan industri, dunia pertambangan, hingga sektor infrastruktur umum. 

Berbekal pengalaman panjang di ranah solusi daya dan infrastruktur, perseroan dinilai mampu memperluas penetrasi pasar tanpa keluar dari kompetensi inti mereka.

Kendati demikian, Alif mengingatkan sejumlah tantangan krusial yang tetap perlu diantisipasi dan dikelola dengan baik, meliputi fluktuasi nilai tukar mata uang, tingkat ketergantungan terhadap rantai pasok global di luar negeri, ketatnya persaingan industri, serta kebutuhan modal kerja yang besar. 

“Prospek jangka panjang BACH tetap positif selama Perseroan menjaga efisiensi, memperkuat hubungan dengan pelanggan dan pemasok, serta melakukan diversifikasi pendapatan,” ujarnya.

Secara keseluruhan, Alif memandang bahwa prioritas utama BACH saat ini adalah memperkuat fundamental bisnis inti ketimbang ambisi mengejar keikutsertaan dalam indeks saham tertentu seperti LQ45 atau MSCI. 

Langkah transformasi dari sekadar penyedia genset menjadi penyedia solusi energi dan infrastruktur telekomunikasi terpadu ini dinilai sukses memperkuat pendapatan berulang sekaligus membuka lebar peluang pertumbuhan di panggung ekonomi digital nasional.

Terkini

Nindya Karya Kebut Proyek Garam Nasional Di Rote Ndao

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 23:48:01 WIB

Belanja Pemerintah Jadi Penopang Ekonomi Kuartal II-2026

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 23:46:32 WIB

OJK Dorong Transformasi Digital Industri Dana Pensiun

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 23:45:01 WIB

Panduan Lengkap Beli Tiket GIIAS 2026 Online

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 23:43:31 WIB