BMKG sebut El Nino 2026 Kuat dan Berpotensi Jadi Sangat Kuat

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:36:01 WIB
BMKG: El Nino 2026 Berpotensi Jadi Sangat Kuat dan Berdampak Panjang [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa El Nino 2026 kini berada pada kategori kuat dan berpeluang meningkat menjadi sangat kuat, sehingga berisiko menyebabkan musim kemarau yang lebih kering dan berlangsung lebih lama di beberapa daerah di Indonesia.

Dalam Dialog Nasional yang diadakan oleh Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Selasa, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan BMKG, El Nino saat ini mencatatkan indeks ENSO sebesar +1,59 yang mengategorikannya dalam tingkatan kuat.

"Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat yang ditunjukkan oleh anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4. Kami menggunakan data periode Mei, Juni, dan Juli yang menunjukkan El Nino dengan indeks ENSO +1,59 berada pada posisi kuat yang berpotensi menjadi sangat kuat," kata Teuku.

Ia memaparkan BMKG sudah memberikan peringatan terkait potensi El Nino sejak pertengahan Maret 2026, sewaktu fenomena tersebut masih diprediksi berada pada tingkatan moderat.

Selanjutnya, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 2 Juni merilis bahwa El Nino telah aktif.

Menurut ia, El Nino mengakibatkan intensitas hujan di sejumlah daerah Indonesia menyusut sehingga musim kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama ketimbang kondisi klimatologis normal.

Curah hujan pada Agustus hingga September 2026 diprediksi masuk kategori rendah hingga sangat rendah. Sementara itu, Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada pertengahan Oktober 2026 sehingga dampak El Nino terhadap curah hujan di Indonesia akan perlahan memudar.

Teuku menyertakan bahwa El Nino, yang mulai aktif sejak Juni 2026, diprediksi bertahan selama kurang lebih sembilan hingga 12 bulan atau hingga kisaran Mei 2027. Meski demikian, durasi tersebut bukan berarti Indonesia bakal menerjang musim kemarau sepanjang periode itu.

"Begitu musim hujan terjadi, pengaruh El Nino di Indonesia sudah tidak signifikan," katanya.

BMKG turut mencatat bahwa imbas dari El Nino tidak tersebar merata di seluruh daerah Indonesia.

Daerah di selatan garis khatulistiwa, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, dan Sumatera bagian selatan diprediksi menerjang musim kemarau yang lebih kering dan lebih lama ketimbang rerata klimatologis.

Di sisi lain, daerah seperti pantai barat Sumatera dan Kalimantan bagian utara diprediksi tidak bakal mengalami penurunan intensitas hujan secara signifikan lantaran mempunyai pola hujan yang berbeda.

Teuku menyampaikan El Nino berpeluang memengaruhi beragam sektor, mulai dari pertanian, ketersediaan air bersih, tata kelola waduk dan irigasi, kebakaran hutan dan lahan, energi, kesehatan, perikanan, hingga roda ekonomi warga.

Maka dari itu, ujar ia, BMKG bersama kementerian dan lembaga terkait telah mengambil langkah pencegahan sejak beberapa bulan belakangan, salah satunya lewat operasi modifikasi cuaca demi mengisi bendungan yang mengalami penurunan volume air sekaligus menyokong langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan.

Tags

Terkini