BRIN Kaji Manufaktur Panel Surya Generasi Baru untuk Energi Bersih

Selasa, 04 Agustus 2026 | 17:49:01 WIB
BRIN Dukung Riset Panel Surya Generasi Baru demi Mandiri Energi [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempelajari peluang industri manufaktur panel surya generasi baru berteknologi Silicon Heterojunction (SHJ/HJT) dan Tandem PV di dalam negeri demi mengakselerasi pengembangan energi terbarukan serta pemanfaatan energi bersih di Indonesia.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE) BRIN Oo Abdul Rosyid di Jakarta, Selasa memaparkan bahwa perkembangan teknologi panel surya melaju pesat, pasar global saat ini mulai beralih dari teknologi berbasis silikon konvensional menuju teknologi yang menyajikan efisiensi lebih tinggi, seperti teknologi HJT dan Tandem PV (perovskite-silikon).

"Teknologi SHJ telah menunjukkan efisiensi lebih dari 27 persen, sedangkan teknologi tandem berbasis perovskite-silikon berpotensi mencapai efisiensi lebih dari 30 persen pada skala laboratorium," katanya.

Selain mengantongi efisiensi yang tinggi, ujar ia, kedua teknologi itu juga sanggup menjaga kinerja dengan baik pada suhu tinggi. Karakteristik tersebut menjadikannya sangat pas untuk diterapkan di kawasan beriklim tropis layaknya Indonesia.

Rosyid menambahkan, Indonesia sebetulnya menyimpan potensi pasar panel surya yang amat besar dan beragam. Potensi itu mulai dari pemanfaatan di atap gedung (rooftop), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala besar, hingga PLTS terapung di permukaan danau dan waduk.

Ia memandang kapasitas perakitan modul surya di dalam negeri saat ini juga terus meningkat secara signifikan. Akan tetapi, sebagian besar komponen utama seperti sel surya dan bahan baku masukan masih mengandalkan pasokan impor.

Lewat hasil riset dan pengalaman kolaborasi di Jerman, BRIN melihat adanya peluang strategis bagi industri nasional untuk melakukan lompatan teknologi (leapfrog).

Rosyid menuturkan, ketimbang terus bergantung pada teknologi lama yang mulai ditinggalkan pasar global, Indonesia berpeluang langsung mengambil peran dalam rantai pasok manufaktur panel surya generasi baru.

"Pengembangan teknologi HJT merupakan pijakan penting menuju masa depan industri panel surya Tandem. Dengan membangun kemampuan manufaktur generasi baru ini, kami tidak sekadar menjadi konsumen atau pasar, tetapi juga mampu memproduksi panel surya secara mandiri yang efisien, hemat bahan baku, dan berdaya saing global," ujarnya.

Ia melanjutkan, hasil kajian riset yang ia jalankan di Forschungszentrum Jülich (FZJ), Jerman ini ditargetkan mampu menjadi pijakan penyusunan peta jalan (roadmap) nasional.

Di samping itu, kajian tersebut juga diharapkan membuahkan rekomendasi strategis bagi pemerintah dan pelaku industri. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat terwujudnya ekosistem industri panel surya dalam negeri secara menyeluruh.

"Ke depan, penguasaan teknologi panel surya generasi baru ini diharapkan mampu mempercepat terwujudnya kemandirian energi hijau Indonesia serta memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat," tutur Oo Abdul Rosyid.

Tags

Terkini