Harga Minyak Naik Tipis Didukung Pemulihan Ekonomi Tiongkok yang Stabil

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:35:52 WIB
Harga Minyak Naik Tipis Didukung Pemulihan Ekonomi Tiongkok yang Stabil

JAKARTA - Harga minyak dunia menunjukkan kenaikan tipis pada perdagangan awal minggu ini. 

Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang lebih baik dari perkiraan. Namun, sentimen pasar masih berhati-hati akibat ancaman tarif perdagangan oleh pemerintahan AS terhadap beberapa negara Eropa.

Minyak Brent untuk pengiriman Maret tercatat naik 0,8 persen menjadi USD64,41 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate bertambah 0,8 persen menjadi USD59,83 per barel. Lonjakan ini mengikuti stagnasi harga yang terjadi pada hari sebelumnya.

Fluktuasi harga dipengaruhi juga oleh ketidakpastian geopolitik dan dinamika pasokan global. Investor menilai kombinasi faktor ekonomi dan politik ini akan menentukan arah pergerakan harga minyak. Keseimbangan antara permintaan dan pasokan tetap menjadi kunci utama.

Pemulihan Ekonomi Tiongkok

Data terbaru menunjukkan PDB Tiongkok kuartal keempat 2025 tumbuh 1,2 persen, melampaui perkiraan 1,1 persen. Pertumbuhan ini membantu Tiongkok mencapai target tahunan sebesar lima persen. Langkah-langkah stimulus dan pemulihan konsumsi menjadi faktor utama di balik pencapaian ini.

Pengolahan minyak di kilang Tiongkok juga meningkat 4,1 persen sepanjang 2025. Sementara produksi minyak mentah naik 1,5 persen secara tahunan, keduanya mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Hal ini menunjukkan pemulihan ekonomi berdampak langsung pada permintaan energi.

Sebagai importir minyak mentah terbesar, Tiongkok memiliki pengaruh besar terhadap pasar global. Pemulihan ekonomi negara ini diproyeksikan mampu menopang harga minyak mentah yang sebelumnya tertekan. Investor global terus memantau tren konsumsi dan produksi energi di Negeri Tirai Bambu.

Ancaman Tarif AS Terhadap Eropa

Pasar minyak juga dipengaruhi ancaman tarif yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump. Ia mempertimbangkan tarif hingga 25 persen terhadap beberapa negara Eropa terkait kepemilikan Greenland. Pernyataan ini menimbulkan ketidakpastian di pasar komoditas, termasuk minyak mentah.

Ketegangan geopolitik menjadi faktor yang membatasi lonjakan harga minyak. Investor cenderung menahan keputusan jual-beli hingga situasi lebih jelas. Meski demikian, harga minyak tetap mendapat dukungan dari fundamental ekonomi Tiongkok.

Ancaman militer dan intervensi geopolitik membuat pasar waspada. Langkah-langkah AS di Greenland dan Venezuela menjadi pengingat bagi pelaku pasar akan risiko eksternal. Kondisi ini mendorong volatilitas yang lebih tinggi pada perdagangan minyak global.

Fokus pada Persediaan Minyak AS dan Laporan IEA

Selain faktor ekonomi dan geopolitik, perhatian pasar tertuju pada persediaan minyak AS. Data persediaan mingguan dan laporan bulanan Badan Energi Internasional (IEA) menjadi acuan. IEA diperkirakan akan memberikan pandangan tentang pasokan global dan potensi surplus pada 2026.

Laporan ini sangat dinanti karena akan memengaruhi perkiraan harga dan strategi produksi. Investor juga mengamati proyeksi OPEC yang menyebutkan permintaan minyak global tetap positif pada 2026–2027. Informasi ini penting untuk menilai keseimbangan pasar minyak dalam jangka pendek hingga menengah.

Selain itu, data persediaan dan konsumsi di AS menawarkan sinyal mengenai permintaan global. Kinerja kilang, stok, dan impor minyak mentah menjadi indikator penting. Semua faktor ini menentukan strategi investasi pelaku pasar energi.

Implikasi Bagi Pasar dan Konsumen

Kenaikan harga minyak yang terbatas memberikan ruang bagi stabilitas pasar energi. Produsen tetap dapat mengelola produksi sambil menyesuaikan strategi ekspor. Di sisi lain, konsumen global perlu memantau perkembangan harga minyak untuk anggaran energi.

Pemulihan ekonomi Tiongkok dan ketegangan perdagangan AS menjadi penentu sentimen pasar jangka pendek. Fluktuasi harga tetap wajar mengingat kombinasi faktor fundamental dan geopolitik. Keseimbangan ini penting agar harga minyak tetap terkendali namun memberi keuntungan bagi produsen.

Kedepannya, pasar minyak akan terus dipengaruhi data produksi, permintaan global, dan keputusan kebijakan negara besar. Investor dan pemerintah perlu memantau setiap perubahan untuk mengantisipasi risiko. Dengan kombinasi faktor ini, pasar minyak diharapkan tetap stabil sambil menghadapi ketidakpastian global.

Terkini