JAKARTA - BIM Usulkan Perminas Garap Tambang Logam Tanah Jarang di Mamuju menjadi bagian dari strategi penguatan industri mineral nasional.
Usulan ini menegaskan pentingnya peran badan usaha negara dalam pengelolaan mineral strategis. Langkah tersebut diarahkan untuk mempercepat hilirisasi dan meningkatkan daya saing Indonesia.
Logam tanah jarang dipandang sebagai komoditas masa depan yang krusial. Permintaan global terus meningkat seiring perkembangan teknologi modern. Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengambil peran strategis.
Melalui pendekatan terencana, pengembangan LTJ diharapkan tidak berhenti pada tahap hulu. Fokus utama diarahkan pada pengolahan bernilai tambah. Hal ini sejalan dengan kebijakan industrialisasi nasional.
Rekomendasi Izin Tambang di Mamuju
Badan Industri Mineral merekomendasikan agar izin usaha pertambangan LTJ di Mamuju diberikan kepada Perminas. Penunjukan tersebut dipandang mampu memperkuat sinergi BUMN. Mamuju dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Selain rekomendasi izin, BIM juga merencanakan pembangunan dua pilot project. Proyek ini difokuskan pada industri hilirisasi logam tanah jarang. Pelaksanaan dilakukan sambil menunggu proses administrasi perizinan.
“Konteksnya adalah riset sambil menunggu proses administrasi dan rekomendasi yang kami sampaikan kepada Kementerian ESDM untuk penerbitan IUP yang kami rekomendasikan kepada Perminas,” tutur Brian Yuliarto. Pernyataan tersebut menegaskan pendekatan riset berjalan paralel dengan proses izin. Strategi ini dinilai realistis dan adaptif.
Pilot project tersebut juga berfungsi sebagai sarana uji coba teknologi. Hasilnya diharapkan menjadi dasar pengembangan industri skala besar. Pendekatan ini memperkecil risiko kegagalan investasi.
Pembuktian Kapabilitas Indonesia
Proyek LTJ di Mamuju ditujukan sebagai pembuktian kemampuan Indonesia. Pemerintah ingin menunjukkan kapasitas nasional dalam pengolahan mineral strategis. Upaya ini juga bertujuan mengubah persepsi global.
“Kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bisa menjadi pemain strategis dalam REE sehingga diharapkan dapat memberikan daya tarik bagi negara lain untuk masuk dan mendirikan industri downstreaming REE di Indonesia,” ujarnya. Pernyataan tersebut mencerminkan ambisi besar pengembangan industri. Daya tarik investasi menjadi sasaran utama.
Keberhasilan proyek ini diharapkan menarik investor asing. Industri hilir LTJ membutuhkan modal dan teknologi besar. Kolaborasi internasional tetap dibuka selama sejalan dengan kepentingan nasional.
LTJ memiliki peran penting dalam berbagai sektor teknologi. Unsur ini dibutuhkan untuk elektronik, kendaraan listrik, hingga pertahanan. Ketersediaannya menjadi faktor strategis di era modern.
Potensi Nasional dan Tantangan Teknologi
Berdasarkan catatan BIM, terdapat tiga wilayah potensial LTJ di Indonesia. Wilayah tersebut meliputi Bangka Belitung, Mamuju, dan Sulawesi. Potensi ini menjadi modal penting bagi pengembangan industri.
Brian menilai LTJ sebagai mineral yang sangat menjanjikan. Pengelolaan yang tepat berpotensi meningkatkan pendapatan negara. Nilai tambah domestik menjadi tujuan utama.
Namun, pengembangan LTJ menghadapi tantangan besar. Salah satunya adalah keterbatasan akses teknologi. Kerja sama internasional tidak selalu berjalan mulus.
“Kami sudah menemui beberapa negara untuk membicarakan kemungkinan pengembangan bersama industri downstreaming logam tanah jarang ini. Hampir semua negara menutup diri, mereka hanya mau membeli bahan mentah,” kata Brian. Pernyataan ini menunjukkan ketatnya persaingan global. Negara pemilik teknologi cenderung protektif.
Kondisi tersebut mendorong Indonesia untuk mengembangkan kemampuan sendiri. Kemandirian teknologi menjadi agenda jangka panjang. Meski menantang, langkah ini dianggap strategis.
Strategi Riset dan Pengelolaan Data
BIM saat ini telah melakukan pendataan riset LTJ di dalam negeri. Penelitian masih berada pada tahap awal. Fokus utamanya adalah pemisahan mineral menjadi mixed rare earth oxide. Upaya mencari offtaker juga terus dilakukan. Beberapa negara telah dijajaki sebagai mitra potensial. Namun, masih terdapat pembatasan dari calon mitra.
Brian menyampaikan bahwa BIM telah menghitung potensi LTJ nasional. Selanjutnya akan ditentukan porsi ekspor dan pengolahan domestik. Kebijakan ini dirancang untuk menjaga keseimbangan.
“Ini adalah masa yang sensitif. Kami juga telah melaporkan kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto terkait inventori LTJ yang dimiliki Indonesia,” jelas Brian. Ia menegaskan data belum dapat dibuka ke publik. Pertimbangan geopolitik menjadi alasan utama.
“Namun, untuk sementara belum kami buka karena kondisi geopolitik dan sosial politik global yang sangat dinamis,” tambahnya. Data tersebut akan disampaikan pada waktu yang tepat. Pemerintah memilih bersikap hati-hati.
Secara keseluruhan, pengembangan LTJ nasional berada pada fase krusial. Peran Perminas diharapkan menjadi motor penggerak. BIM Usulkan Perminas Garap Tambang Logam Tanah Jarang di Mamuju mencerminkan arah kebijakan tersebut.