JAKARTA - Transportasi publik menjadi salah satu indikator penting dalam perkembangan kota besar.
Peningkatan jumlah pengguna sering kali berjalan beriringan dengan tantangan pengelolaan anggaran. Di Jakarta, capaian ini justru menunjukkan keseimbangan antara layanan dan efisiensi.
PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mencatat peningkatan jumlah pelanggan sebanyak 413 juta selama 2025. Peningkatan tersebut diiringi dengan efisiensi pengelolaan subsidi. Capaian ini menegaskan peran Transjakarta sebagai tulang punggung mobilitas perkotaan.
Direktur Utama Transjakarta Welfizon Yuza menyampaikan bahwa kinerja tersebut menjadi penutup tahun yang positif. “Transjakarta menutup tahun 2025 dengan pencapaian gemilang. Perusahaan mencatatkan angka 413 juta pelanggan dan berhasil mencatatkan efisiensi operasional yang impresif,” kata Welfizon Yuza.
Lonjakan Penumpang dan Peran Mobilitas Jabodetabek
Angka 413 juta pelanggan menunjukkan pertumbuhan signifikan. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah tersebut meningkat dua kali lipat. Pertumbuhan ini mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan Transjakarta.
Menurut Welfizon, rata-rata perjalanan harian mencapai 1,4 juta. Angka ini memperlihatkan intensitas penggunaan yang tinggi. Transjakarta semakin memperkuat posisinya di wilayah Jabodetabek.
Mobilitas warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi sangat bergantung pada transportasi publik. Transjakarta hadir sebagai solusi utama. Keberlanjutan layanan menjadi faktor krusial.
Efisiensi Subsidi di Tengah Tekanan Ekonomi
Selain peningkatan jumlah pelanggan, efisiensi menjadi perhatian utama. Welfizon menjelaskan bahwa tekanan inflasi dan kenaikan upah minimum tidak menghambat kinerja. Efisiensi operasional tetap terjaga.
Subsidi per pelanggan dijaga konstan dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, angka tersebut turun 14 persen dibandingkan 2022. Kondisi ini menunjukkan pengelolaan yang semakin efektif.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan pemegang saham mayoritas. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berperan penting. Transformasi fundamental menjadi fondasi utama.
Transformasi Layanan dan Fokus Keselamatan
“Kami tidak hanya mengejar ekspansi kuantitas saja, tetapi juga kualitas,” ujar Welfizon. Digitalisasi dan penguatan tata kelola menjadi strategi utama. Layanan publik masif tetap dikelola secara bertanggung jawab.
Selain itu, Transjakarta menegaskan komitmen terhadap keselamatan. Perluasan jangkauan tetap dibarengi pengendalian risiko. Keselamatan penumpang menjadi prioritas utama.
Komitmen keselamatan menunjukkan hasil terukur. Tingkat kecelakaan menurun secara berkelanjutan sebesar 40 persen dalam tiga tahun. Hasil ini mencerminkan perbaikan sistemik.
“Indikator tersebut terus membaik dari tahun ke tahun dan mencapai titik terendah pada tahun 2025 dengan capaian skor 0,33,” tutur Welfizon. Capaian ini menjadi tolok ukur penting. Keselamatan menjadi nilai inti layanan.
Digitalisasi dan Armada Ramah Lingkungan
Transjakarta terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Dua pilar utama dikembangkan secara konsisten. Transformasi digital menjadi salah satu fokus. Aplikasi seluler Transjakarta kini digunakan oleh 2,1 juta pengguna. Aplikasi ini menyediakan pelacakan real-time. Sistem tiket digital juga semakin inklusif.
Selain digitalisasi, armada ramah lingkungan menjadi prioritas. Transjakarta mendukung target emisi nol bersih. Sebanyak 470 unit bus listrik dioperasikan. Bus listrik tersebut terdiri dari tipe high deck dan low deck. Langkah ini menjadikan Transjakarta pionir transportasi hijau. Komitmen lingkungan terus diperkuat.
Pemulihan Layanan dan Kemandirian Bisnis
Demi kenyamanan bersama, Transjakarta bergerak cepat memulihkan layanan. Halte terdampak insiden kebakaran kembali dioperasikan. Proses perbaikan berlangsung singkat.
“Meskipun kerusakan infrastruktur pascakebakaran tergolong parah, pemulihan dapat dilakukan secara cepat melalui kolaborasi intensif,” jelas Welfizon. Kolaborasi melibatkan Pemprov DKI Jakarta dan jajaran SKPD. Dukungan komunitas turut berperan.
Selain mengelola subsidi, Transjakarta meningkatkan kemandirian bisnis. Pendapatan non-subsidi menjadi fokus pengembangan. Inovasi terus dilakukan.
Program hak penamaan atau Naming Rights dikembangkan. Layanan bus wisata Open Top Tour turut dihadirkan. Kehadiran TJ Radio dan TJ Store menambah sumber pendapatan.
Pada 2025, pendapatan non-subsidi mencapai Rp281 miliar. Angka tersebut meningkat empat kali lipat dalam tiga tahun. Kemandirian finansial semakin kuat.
Kinerja unggul Transjakarta mendapat pengakuan luas. Skor Good Corporate Governance mencapai 90,64 dengan kategori sangat baik. Sebanyak 40 penghargaan diraih sepanjang 2025.
Pengakuan internasional turut diperoleh. Apresiasi dari Bloomberg Philanthropies menjadi salah satunya. Capaian ini memperkuat reputasi perusahaan.
“Pencapaian ini adalah manifestasi dari visi kami: Menghubungkan Kehidupan, Menemani Perjalanan,” ungkap Welfizon. Transjakarta berkomitmen terus berinovasi. Layanan publik menjadi kebanggaan warga.
Ke depan, Transjakarta berharap menjadi moda pilihan utama. Peningkatan jumlah pengguna terus diupayakan. Transportasi publik berkelanjutan menjadi tujuan bersama.