Kuartal II/2026: Laba Bersih Pertamina Geothermal Tembus Rp1,4 T

Kuartal II/2026: Laba Bersih Pertamina Geothermal Tembus Rp1,4 T
Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat. (Foto: NET)

JAKARTA — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatatkan perolehan laba bersih sebesar US$79,607 juta atau setara Rp1,44 triliun (dengan asumsi kurs Rp18.069 per US$) hingga penghujung kuartal II/2026. Keuntungan bersih perusahaan ini mengalami peningkatan sebesar 15,48% secara year-on-year (yoy).

Peningkatan laba tersebut sejalan dengan tumbuhnya pendapatan emiten bersandi saham PGEO ini, yang naik 14,7% yoy ke angka US$235,027 juta atau sekitar Rp4,24 triliun pada kuartal II/2026. Sebelumnya, pada periode yang sama di tahun 2025, perseroan meraup pendapatan senilai US$204,850 juta.

Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat, menyampaikan bahwa hasil positif ini mencerminkan konsistensi perusahaan dalam menerapkan strategi bisnis yang efisien, efektif, serta berkelanjutan. 

Ia menyebutkan bahwa lonjakan pendapatan itu juga berimbas pada laba bersih perseroan yang menanjak 15,48% secara tahunan menjadi US$79,607 juta. Hal tersebut didukung oleh peningkatan produksi, keandalan operasional pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang bernilai positif.

Fransetya menambahkan, sampai dengan paruh pertama 2026, total produksi PGE menyentuh angka 2.745 gigawatt hour (GWh). Jumlah ini melonjak 13,62% dibandingkan periode serupa di tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 2.416 GWh.

"Pertumbuhan yang kami catatkan di kuartal ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah bekal bagi PGE untuk terus memperluas manfaat panas bumi bagi masyarakat sekaligus mendorong transisi energi nasional,” ujar Fransetya melalui keterangan resminya, Jumat (31/7/2026).

Kinerja PGE pun memperlihatkan tren akselerasi pada kuartal II/2026. Laba bersih kuartal pertama 2026 tercatat di angka US$43,899 juta, lalu melesat signifikan hingga mencapai total akumulasi US$79,607 juta pada penutupan kuartal II/2026.

Terkait permodalan, ekuitas perseroan berada di level US$2,006 miliar pada kuartal II/2026. Fransetya menilai kondisi ini menggambarkan fondasi keuangan yang prima dengan kemampuan memadai untuk memenuhi berbagai kewajiban sekaligus mencetak laba. 

Di sisi lain, beban liabilitas perseroan mengalami penyusutan sebesar 2,80% dibandingkan 31 Desember 2025 menjadi US$961,184 juta. Penurunan liabilitas ini berdampak positif terhadap mitigasi risiko keuangan dan penguatan struktur modal perusahaan.

Jaga Warisan Energi Nasional Jelang 100 Tahun Panas Bumi

Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, memaparkan bahwa tahun 2026 menjadi momentum satu abad perjalanan energi panas bumi di Indonesia. Warisan energi nasional ini menjadi pengingat akan pentingnya kolaborasi dan inovasi demi mengakselerasi pengembangan energi bersih di dalam negeri.

Ia menyatakan bahwa panas bumi adalah pilar strategis bagi energi nasional karena sifatnya yang bersih, tangguh, serta berfungsi sebagai base load. Hal ini menjadikannya sangat ideal untuk mendukung sistem kelistrikan di tengah masa transisi energi saat ini.

“Momentum 100 tahun ini adalah pengingat betapa luar biasanya kekayaan alam Nusantara. Seratus tahun lalu, perjalanan ini dimulai dari eksplorasi di Kamojang, Jawa Barat. 

Hari ini, PGE bangga menjadi penggerak utama yang mengelola sekitar 70% energi panas bumi di seluruh Indonesia, dan Kamojang menjadi bagian penting dari kami," ucap Ahmad.

Selaras dengan hal tersebut, perkembangan di sektor energi baru terbarukan (EBT) juga mengarah pada tren yang kian positif. 

Situasi ini tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) untuk periode 2025-2034, yang mematok porsi EBT mampu mencapai 76%, di mana panas bumi diharapkan menyumbang kapasitas hingga 5,2 gigawatt (GW) dalam rentang waktu itu.

Guna merealisasikan target tersebut, PGE membidik kapasitas terpasang hingga 1 GW di tahun 2028 serta 1,8 GW pada 2033. 

Perseroan saat ini tercatat mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 727 megawatt (MW), yang memberikan kontribusi besar terhadap ketersediaan pasokan listrik di berbagai daerah.

Lewat pengelolaan sekitar 70% dari keseluruhan kapasitas panas bumi terpasang nasional, PGE hadir sebagai pilar esensial dalam menopang ketahanan sistem kelistrikan negara sekaligus mempercepat laju transisi menuju pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index